pns dngn mryng gmbra…

rada gak penting siih… namanya juga lagi gak jelas…

Jabatan Fungsional Juli 1, 2012

Filed under: Blog Ndableg! — kringetdingin @ 2:46 am
Tags: , , ,

Urusan pengajuan fungsional ini emang udah lama bikin emosi menguras bak mandi….

Awalnya, ketika saya pertama kali diterima jd CPNS, formasi saya adalah sebagai pranata komputer (prakom), ketika diklat prajabatan pun, diulang berkali-kali kalau saya harus ngajuin fungsional sebagai prakom.

Tapi di satker saya yang lama, ternyata posisi sebagai pranata komputer dianggap bukan fungsional. Bahkan pak kepala satker bilang begitu juga. Emang sih, dulu kan kerjanya di akademi, tapi pejabat fungsional itu bukan cuma dosen dan arsiparis. Saya juga nggak ngotot. Sampai akhirnya saya dipanggil untuk bimbingan teknis pranata komputer, dan sempat membuat gempar seluruh warga satker, karena kenapa saya dipanggil? kenapa nggak ada pemberitahuan? dsb

Gampang aja, pusdatin memanggil semua calon fungsional prakom. Ketika balik pun, pak kepala satker masih tetep kukuh kalau prakom itu bukan jabatan fungsional jadi saya nggak perlu pengusulan apa-apa.
Yah, saya juga namanya anak baru, punya bos yang sotoy nya minta ampun, mau bilang apa lagi. Nurut aja lah.
Toh, akhirnya niat saya untuk jadi fungsional prakom luntur dengan sendirinya, ketika saya lulus kuliah S2 komunikasi.

Ketika lulus S2, saya mikir, paling oke kayaknya jadi fungsional pranata humas (prahum). Cocok banget dengan s2 saya. Tidak pernah terpikirkan untuk mengajukan juga ketika di satker lama, untuk prakom yang udah jelas fungsional aja dibilangnya bukan, apalagi prahum yang lebih asing di kuping si bos ini.

Waktu berjalan, akhirnya saya mutasi ke satker baru. Disini, adalah kebalikan dari satker lama. Disini semua orang, diharapkan menjadi pejabat fungsional. Pertama kali datang, langsung ditanya sama orang kepegawaian “Dek, kamu mau jadi fungsional prakom?”
Jeng jeng! *backsound*

Saya langsung mikir, wah.. hebat euy, langsung ditawarin. Sayanya yang malah ogah-ogahan. Alasannya, saya udah gak terlalu tertarik dengan coding, jaringan, dan segala macam itu yang berbau sistem komputer. Saya tanya.. “Kalo prahum boleh kak?” Dia bilang, “Belum ada sih jabatan prahum disini… kalau kamu mau coba, boleh aja.”
Wah mantap banget nih… Tapi saat itu juga saya masih males-malesan, liat tunjangan dan pangkat terakhir, sepertinya tidak mengetuk pintu hati.

Susahnya jadi pejabat fungsional (jabfung) adalah mengumpulkan poin untuk Daftar Usulan Pengajuan Angka Kredit (DUPAK), jabfung diberikan waktu paling cepat dua tahun untuk mengajukan kenaikan pangkat dengan DUPAK yang sudah disahkan, dan diberikan waktu paling lama 4 tahun untuk mengumpulkan angka kredit. Jadi setelah 4 tahun, kalau angka kreditnya gak cukup, ya dibebaskan dari jabfung nya, which means, tunjangan fungsional dihentikan.

Kebayang kan betapa malasnya saya untuk ngumpulin angka kredit, kerjaan saya aja udah banyak, apalagi ditambah lagi harus ngumpulin angka kredit.

Lalu datanglah macam-macam tawaran jabfung lain, jadi Analis Kepegawaian. Karena saya kerja di bagian kepegawaian, maka itu membuat saya menjadi mudah mengumpulkan angka kredit. Tapi untuk saya yang kerja di satker berisi hanya 77 orang, pasti akan jadi susah. Ditambah lagi pangkat mentok nya, cuma sampai IVc kalau gak salah.

Adalagi yang nawarin saya jadi Perekayasa, karena satker sekarang belum punya Perekayasa, padahal litbang itu sangat membutuhkan perekayasa. Iming-iming tunjangan besar dari pangkat bisa sampai IVe, sempat membuat saya tergiur. Tapi belum tergerak untuk mengajukan.

Sampai suatu hari, Ibu Nur, agendaris kantor ngasih kabar, “Aku liat ada jabfung baru, penerjemah, tadi aku yang terima fax nya.” Tiba2 saya terdiam. Semacam ada panggilan macam “Riiicooolaaa” di kepala saya. Saya langsung browsing, nyari pangkat terakhir penerjemah, dan tunjangan bulanannya. Mata saya pun berbinar. Maybe this is it. Saat itu juga, langsung saya bilang ke kakak kordinator kepegawaian, “Kak, aku mau jadi fungsional penerjemah aja.” Dia pun sumringah mendengarnya… well, setelah sekian lama saya ogah2an tiba2, kali ini saya yang menyatakan keinginan.Beliau langsung, memberikan syarat2 yang harus dipenuhi, dan membantu mengonsep surat pengusulan. Saya download format DUPAK dari situs setneg, dan akhirnya saya penuhi semua persayaratan, lalu kirim ke kantor pusat, sekitar 3 minggu yang lalu. Saya gak tau gimana jadinya, tapi semoga saja berhasil dan disetujui.

Sebelum saya mengirimkan usulan untuk jadi penerjemah, saya diberi nasihat oleh ka Si PPK (Program dan Pengembangan Kompetensi), dia wanti-wanti banget supaya saya gak brenti di tengah jalan. Karena banyak kasus yang mengajukan jabatan fungsional, setelah 4 tahun berhenti karena gak sanggup ngumpulin angka kredit. ORang-orang yang terhenti jabfung nya juga tidak merasa rugi, karena mereka memang nggak niat ngumpulin angka kredit. Tapi kan lumayan setelah 4 tahun terima tunjangan lebih.

Sebenernya emang sih, ketika mengajukan jabfung, tujuan utama kita biasanya tunjangan. Kalau emang berniat jadi jabfung, berikut hal-hal penting yang harus diperhatikan.

1. Panggilan jiwa. Ini penting banget. Harus ada panggilan untuk kita menjadi jabfung tersebut. Kita harus suka melakukannya, atau tidak akan keberatan melakukannya. In other words, Do what you like and want to do. Misalnya, Jangan jadi prakom kalau males banget urusan sama komputer, dan ogah banget disuruh bikin program aplikasi dsb. Panggilan jiwa ini penting karena akan menentukan kemudahan kamu mengumpulkan angka kredit. Apapun yang dikerjakan dengan hati senang, pasti mudah.

2. Angka Kredit. Coba diliat apakah angka kreditnya termasuk mudah untuk dikumpulkan dengan kondisi tempat kerja kita. Misalnya menjadi pustakawan di tempat yang tidak punya perpustakaan. Ini mah namanya bunuh diri.

3. Tunjangan. Penting gak penting. Kalau emang suka mengerjakan apa yang kita kerjakan, biasanya uang udah menjadi urutan ke sekian… Tapi gak ada salahnya pinter2 memilih, demi kemakmuran kita juga :)

4. Pangkat terakhir. Beberapa orang merasa ini juga tidak terlalu penting. Untuk beberapa orang penting sangat. Misalnya, banyak yang nggak mau jadi teknisi litkayasa karena pangkat terakhirnya mentok di IIId.

Jadi jabfung itu sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Asal kita benar2 mengerjakan tugas kita, angka kredit terpenuhi, koin bisa datang dengan sendirinya. Beberapa ada yang tetap ingin di struktural, dengan harapan jadi pejabat suatu hari nanti. Jadi jabfung bisa juga kok jadi pejabat, apalagi kalau gak ada orang yang pangkatnya udah cukup untuk megang jabatan. Emang sih ketika jadi pejabat, jabfung kita dihentikan sementara, tapi it’s okay lah. Kalau nggak jadi pejabat tetap ada tunjangan fungsional juga kan.

Walaupun saya belum resmi menjadi penerjemah, tapi ‘orderan’ untuk menerjemah lumayan banyak. Yang kadang bikin saya repot sendiri, kalau yang personal itu saya ngejar koin, tapi kalau yang untuk kantor saya ngejar poin dan koin. :)

Bagi yang belum ngajuin jabfung nya.. coba deh diliat-liat lagi kira-kira apa yang cocok buat kamu, apalagi kalau sekiranya masa depan karir kamu suram dan gak bakalan jadi pejabat, :p maka cepat2lah ngajuin jabfung, ini untuk diri kita juga :D

 

5 Responses to “Jabatan Fungsional”

  1. eko Berkata

    Fungsional penerjemah instansi pembinanya Setneg ya kalo gak salah? harus tersumpah dulu kah?

    • kringetdingin Berkata

      Iya mas, dari setneg. Kmrn sih di syaratnya gak ada harus jd penerjemah tersumpah dl, kebetulan kan ikutan inpassing. Saya jg H2C nunggu proses lanjutannya,dan di instansi saya jabfung ini jg masih baru :D
      tp coba situs ini : http://penerjemah.setneg.go.id/faq

  2. aku juga perek Berkata

    wah kok sama dengan yang aku alami ya? tapi bedanya aku sudah menjabat fungsional sdh 4 tahun 11 bulan, sdh siap siap untuk BS. infonya klo tidak mengumpulin akan disuruh mengembalikan tunjangan kita selama pangkat terakhir. pertama dengan info itu aku abaikan saja klo mau denda silahkan didenda, soalnya kecil banget tunjangannya,,hehehe
    tapi coba berubah pikiran atur strategi,,walaupun malas malasan tetap akan mengumpulkan poin,,,toh di BS jg sdh siap. karena ngeri klo sdh bayangkan klo buat terus pointnya nol koma nol….. bisa dibayangkan satu poin saja harus buat laporan berlembar lembar.
    ada yang tidak suka di sistem perekayasa .
    1. tambah naik jabatan tambah susah mencari angka kreditnya.
    2. tambah naik jabatan tambah tua umur kita otomatis tenaga dan konsentrasi kita berkurang tetapi malah dituntut untuk kerja lebih keras lagi, semisal umur kita lebih dari 40tahun mestinya kita tinggal menikmati kerja keras kita waktu masih muda tetapi diumur segitu kita malah dituntut untuk mengumpulkan angka kredit tambah banyak,,,klo sudah bayangkan gitu sdh awang awangen untuk mengumpulkan angka kredit

    • kringetdingin Berkata

      Etapi kl perekayasa kan tunjangannya termasuk yang tinggi, sama dengan peneliti toh?
      Trus, kl buat tulisan yang di publish LIPI, biasanya poinnya banyak kan? di tempat saya banyak yang gak berani maju jd perekayasa, katanya sih emang susah dapet angka kreditnya…
      tapi tetap semangat, kakak! :)

      • aku juga perek Berkata

        infonya begitu, tunjangannya akan naik sama dengan peneliti.
        tapi kondisinya begini.
        untuk perekayasa pertama khan tetap kecil mungkin kisaran 500rb dari tunjangan yang lama 325rb. posisi ini umumnya pegawai masih bujang sehingga akan terasa lumayan ada tambahan sekitar 25% dari perkiraan gaji pokok 2jutaan. tapi buat yang sudah berkeluarga apalagi sudah punya bayi kecil pasti akan terasa berat apalagi bayinya butuh susu sapi/pabrikan yang mungkin hanya dapat 3 kaleng padahal satu bulan bisa sampai 10 kaleng,,,nah hayo..

        klo dibayangin untuk perekayasa utama tunjangannya kisaran 3jt lebih dikit hampir sama dengan gajik pokok sehingga ada tambahan sekitar 100%,,,wau,,angka yang signifikan….bayangan kita lumayan besar,,tp dilihat dulu,,rata rata pada posisi ini dapat diraih pada kisaran umur 45 tahun keatas,,,bisa dilihat disekeliling kita pada umumnya umur segitu anak anak kita sudah besar,,ada pula yang sudah kuliah,,bisa dibayangkan berapa biaya kuliah saat ini? bisa puluhan juta? apa artinya tunjangan 3 juta klo uang masuk kuliah saat ini bisa sampai 30jt lebih,,,belum uang harian, foto copy, uang kost,,dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 466 pengikut lainnya.