pns dngn mryang gmbira…

kisah kasih PNS ceria

Customer Service di Padang? Mimpi Kali yee… Oktober 11, 2010

Dari semua kota di dunia yang pernah saya kunjungi atau tinggali, di Padang inilah saya paling banyak dapat pengalaman buruk sebagai customer.

Tanpa bermaksud men-stereotype orang Minang, entah kenapa sepertinya konsep “customer service” itu sangat jauh dari bayangan para pedagang di Padang ini. Jangan harap pembeli adalah raja, para pedagang pun berdagang seolah mereka tak butuh pelanggan. Malah menurut saya cenderung, tidak punya sopan santun…

Kalau cuma sekedar kembalian koin dilempar, awalnya sih agak kaget, tapi saking seringnya saya mulai berfikir, apakah memang begini budaya Minang?

Mulai dari pedagang di warung kecil, sampai toko yang lumayan besar, tidak usah mengharapkan senyum dari pelanggan, kalau tidak di’omel-omel’in sepertinya sudah harus bersyukur.

Wajar kan kalau saya paling males yang namanya belanja di toko di kota Padang, malahan saya sempat meminta kiriman barang2 dr Jakarta dr adik saya. Saking takutnya kl belanja disini serba salah… Kalau kasih harga mahal, dipaksa suruh nawar, kalau gak ditawar marah, ditawar dimarahin pula… Jadi serba salah.

Salah satu pengalaman yang sangat menjengkelkan adalah ketika saya belanja di Sumpit Mas Tabing. Toko ini adalah salah satu toko Yossie. Toko Yossie sudah terkenal di Padang sebagai Toko yang lumayan besar. Setelah gempa mereka menjadi ramai karena toko-toko besar seperti Ramayana dan Food Mart tutup.

Di Sumpit Mas ini, ada salah satu pegawai, entah pegawai, entah yang punya saham. Wanita berjilbab yang sangat gemuk dan pemarah. Tidak usah dalam keadaan marah, dalam keadaan biasa pun dia cemberut dan membuat orang malas berbelanja disana.
Di suatu malam, saya terpaksa belanja disana karena tiba2 motor saya ban nya bocor, dan toko terdekat adalah Sumpit Mas. Sambil menunggu ban saya ditambal, saya berniat membeli minuman dingin, ketika membuka kulkas, tiba2 saya tertimpa botol plastik Sprite 1 L. Tentu saja botol itu jatuh dan pecah, saya yang di dekat situ pasti lah basah. Dan alhamdulillah saya tidak terluka. Rasanya kesal sekali, apalagi jaket baru saja selesai saya laundry. Mau marah rasanya. Tapi saya tahan, karena percuma juga marah2, toh mereka tidak akan merasa bersalah… dan benar dugaan saya…

Ketika sampai di kasir, si ibu kasir nanya, “Gimana ini mbak? Botolnya pecah…”
Saya sempat bingung, biasanya kalau ada kecelakaan kayak gini gak berani tuh yang namanya pedagang masih nagih. Saya protes, “Ok, saya gak masalah bayar itu, cuma, kerugian saya gimana? Baju saya basah, kena air gula pula?? Jaketnya baru dilaundry neh!”
Ibu Kasir: **diem aja**
Tiba2 ada suara merepet brisik, ternyata salah satu orang yang kerja disitu. Saya tanya nama dia siapa, dia bilang tidak perlu tau, oleh karena itu dia saya panggil si gembrot, karena badannya yang genduuuutttt banged. Iya itu pramuniaga yang saya sebut diatas tadi…

Sejujurnya saya tidak mengerti dia ngomong apa, saya protes karena meletakan botol-botol besar di atas kulkas itu berbahaya, yang pasti si gembrot ngeyel sambil bilang, biasanya gak apa-apa, ini semua salah saya kenapa buka kulkas sembarangan, ditambah lagi dia bilang, kenapa harus urusan masalah baju saya, kan bukan dia yang make…

Setahu saya sih salah satu prosedur keamanan dan kerapihan, diatas lemari pendingin itu harus steril, apalagi lemari pendinginnya lumayan tinggi, kalau anak kecil yang ketimpa gimana?? Apa harus ada yg luka dulu baru diambil tindakan?

Tapi sepertinya si pekerja itu tidak mengerti arti dari ‘customer service’. Saya sudah memenuhi kewajiban saya membayar botol pecah tersebut, tapi tidak sekalipun tersebut kata “maaf” dari semua orang yang bekerja di situ. Benar-benar tidak ada etika nya. Sudah hampir mencelakai pelanggan bisa-bisanya merasa mereka benar… sempat2nya pula menyalahkan pelanggan…

Saya menceritakan pengalaman saya ke orang-orang di kantor, ternyata banyak yang sudah kecewa berbelanja di Sumpit Mas, ataupun Toko Yossie yang lain, ya karena ya itu, jangankan mengharapkan kata ‘maaf’, tersenyum dan bilang ‘terima kasih’ saja tidak pernah, jangan kan minta senyuman, gak diomelin aja udah beruntung…

Jadi kebayang kalau toko sebesar itu saja tidak bisa mengajarkan pegawainya tata krama dan etika ke pelanggam, apalagi yg kecil…

Saya pikir, stereotype saya tentang pedagang di Padang yang gak punya sopan santun masih berlaku. Untuk sebuah kota yang katanya berpegang pada ajaran agama, ternyata hanya segini nilai agama yang diserap…

Kecewa sangat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s