pns dngn mryang gmbira…

kisah kasih PNS ceria

Kendaraan Umum, Umumnya Kendaraan (part 2) Desember 21, 2011

Originally Posted on Thursday, 20 November 2008 at 14:58

===

Setelah berkutat selama 2 tahun lebih di Bali, saya kembali lagi ke Jakarta dan mulai berkenalan ulang dengan kendaraan umum.
Maklumlah, sudah agak lama… haha…
Tapi lucunya, saya malah jadi jarang menggunakan angkutan umum, kecuali terpaksa. (Forgive me motherearth, for contributing to global warming)
Jarak di Jakarta ini sangat jauh-jauh.. kemana-mana jauh… sebnarnya kalau naik mobil pun, saya harus berpegal-pegal melewati kemacetan Jakarta, belum lagi bensin nya…

Jadi ingat waktu ada interview kerjaan di daerah selatan, wah… jauh aja… dari awal udah agak-agak males, karena terlalu jauh dari rumah, kecuali bisa nawarin gaji yang bisa mengcover bensin saya bolak balik, jalan tol, dan mental disorentation saya selama dalam perjalanan (And I doubt that they will give that). Itu kalau naik mobil, bayangkan kalau saya harus naik bis? apalagi naik taksi?? waduuh… Kebayang kan kalau misalnya gaji sebulan cuma abis di ongkos ajaa… gw kerja bakti donk
Sama kasusnya waktu adk saya ada interview di daerah Bintaro, wah.. kl yang ini sih udah langganan macet, dari jaman saya SD dulu sampe sekarang bukannya tambah bener malah tambah parah. Cuma pingin ngasih tau adek ku tercinta… kecuali gaji lo gede banget, it’s not worth it…

So, belakangan ini saya sudah mulai malas melamar kerja ke perusahaan, karena rata2 kantor mereka berada di daerah yang cukup jauh dari rumah saya, bukan hanya jauh, tapi transportasi kesana yang tidak cukup descent, membuat saya rada-rada males. Mikirnya, kalo gini mendingan gw konsentrasi kuliah aja… kampus juga gak terlalu jauh dari rumah…

Dulu saya pernah nulis tentang Taxi VS Bajaj, tp ternyata, busway adalah alternative kendaraan umum yang paling cukup layak, nyaman, dan murah untuk saya ke kampus.
Walaupun saya pikir, saya masih rada-rada bego dalam hal perbusway an.

Kemarin saya naik busway dari matraman ke UI, deket sih… saya transfer dari koridor berapa ya.. itu lhow pulogadung-duku atas… Pas masuk ke halte matraman, saya lihat sudah sangat super penuh, sampe keluar-keluar di jembatan ngantri nya… tapi ya sudah lah.. saya liat di luar juga macet, jadi misalnya saya keluar pun, tidak akan berjalan lebih cepat…
Busway datang, orang berebut masuk, pintu sudah mau ditutup, masih ada yang maksa masuk. ck ck ck… *sambil geleng2*

semenit kemudian datang lagi busway yang lain, lebih longgar, dan mas-mas penjaga pintu bilang, “Sampai Senen! Sampai Senen!!”
Saya sudah masuk, tapi tidak semua orang berebut masuk… ada yang aneh….
Lalu saya nanya ke mas penjaga pintu, “Emang biasanya gak sampai Senen ya mas??”*muka bego*
Dia bilang, “Nyampe…” *muka sangat tenang pake seyum manis lagi
saya tambah bingung, “Trus, kenapa banyak yang gak naik?” *masih muka bego*
dia jawab, “Wah, gak tau deh mbak… mungkin mereka emang gak mau naik aja kali…” *logat tegal*
saya: “HEH????”
dalam pikiran saya, “Waduh, bagaimana kalau ini ternyata bis express yang langsung ke senen dan gak brenti2…” *terus menatap mas2 busway dengan pandangan curiga*
tiba-tiba mas2 busway teriak, “Siap-siap, St, Carolus!!”

Phew… ternyata busway ini tetap berhenti di setiap stop, cuma dia berhenti di Senen, gak sampai Ancol…
Dan saya sampai ke UI dengan selamat.

Untuk rute pulang, sudah dapat dipastikan pasti saya akan naik busway bersama mbak shinta. Walaupun ke halte busway nya kita tetap menumpang ke Vanny atau Rina. Dikarenakan atas dasar malas berjalan kaki di jembatan halte Matraman.

Mbak shinta yang super ramah ini membuat suatu pertemanan dengan tukang sobek karcis di halte Pramuka LIA. Ini benar-benar pertemanan yang menguntungkan karena kita tidak harus naik jembatan untuk sampai ke loket, tapi cukup masuk dari pintu samping, dan mas2 tukang sobek karcis akan dengan senang hati membukakan pintu untuk mbak2 yang cantik2 ini🙂 hehehe (jangan ditiru, nggak baek)

Tapi apa yang terjadi jikalau si mas2 ini libur??? seperti yang terjadi pada suatu malam.
Saya: “Wah, Jang (panggilang mesra saya buat mbak shinta) dikunci neh, mas2 nya mana??” *melongok2 bego*
Shinta: “Bukan mas2 yang biasa tuuh… MASS BUKAIN DOONKK!” *tatapan sok imut dan memelas*
Mas2 yang bukan biasa: “Mau kemana mbak??” *sok lugu*
Saya: “Pulang ke sono” *sambil nunjuk2 ke arah rumah*
Mas2 yang bukan biasa: “Ke halte mana?” *masih sok lugu*
Saya: “Pulogadung”
Mas2 yang bukan biasa: “Ooh.. tunggu bentar yaa…”*pergi ke dalam loket dan keluar dengan muka lugu tak berdosa* “Kunci nya di bawa cleaning service mbaak…”
Saya dan Shinta : *gubraaak*
Shinta: “Ya udah deh, saya manjat aja” *manjat pagar busway dengan cuek nya*
Saya: “Yaaah.. masa’ gw manjat juga jaangg?? *tetep ikutan manjat*
Mas2 yang bukan biasa: *menatap lugu*

PERHATIAN: Diatas bukanlah contoh yang baik, hati2 akan kehadiran John Pantau atau Polisi Busway (emang ada ya??)

Segilintir pengalaman dari hari2 saya ber busway ria….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s