pns dngn mryang gmbira…

kisah kasih PNS ceria

Repost: Mulai Dari Kantor Pajak Sampai Roti Boy Desember 21, 2011

Filed under: Blog Ndableg! — kringetdingin @ 2:42 pm
Tags: , , , , ,

Saya gak bisa mindahin facebook notes ke wordpress.. hiks…
Intinya karena ada di facebook jadi gak bisa dipindahin…
Padahal ada beberapa tulisan saya yang mau saya repost….

Like this one… Karena sepertinya belum juga berubah ceritanya🙂

Posted : January 4, 2009

==
Curhatan awal tahun… boleh kan??

Bermula dari saya main-main ke kantor pajak Jakarta Timur, saya bilang main-main karena saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan disana, NPWP. Jadi anggap saja jalan2 tanpa kepentingan. Saya datang ke kantor pajak Jakarta Timur, tujuan utama, mendapatkan NPWP. Tapi yang saya temui di dalam kantor pajak adalah antrian yang tidak jelas, manusia-manusia bergumpal-gumpal, tanpa ada satu orang pegawai yang menunjukan kemana saya harus mendaftar. Akhirnya saya melihat ruangan kecil di ujung bertuliskan “Tempat Pendaftaran NPWP” lalu saya masuk, dan lagi, saya melihat gumpalan-gumapalan manusia di ruangan sempit tersebut. Untunglah saya melihat ibu-ibu berseragam kantor pajak yang terlihat sibuk karena semua orang bertanya kepada dia, saya juga donk, siapa suruh di depan tidak ada resepsionis atau customer service, atau konsultan, atau apalah… lalu saya mulai berebut bertanya (karena kan semua orang begitu, kalau saya antri, apa jadinya??)

Saya: “Bu, bagaimana saya mendapatkan NPWP?”
Ibu Pajak:“Isi formulir, lalu ikut mengantri di luar”

saya ambil formulir, lalu hanya untuk memastikan bahwa saya di antrian yang benar saya tanya lagi, “KTP saya Jakarta Selatan, saya tetap boleh daftar disini kan?”

Ibu Pajak: “Wah, gak bisa, harus ke kantor pajak Jakarta Selatan”

Saya: “Bukannya sistemnya udah online bu?” (terinspirasi iklannya yang pada daftar ke mobil pajak, jadi logikanya bisa daftar dimana aja)

Ibu Pajak: “Gak bisa, kita gak online, harus ke Jakarta Selatan.”

Saya: “Wah, jauh juga ya… kalau daftar lewat internet bisa gak bu?”

Ibu Pajak: “Coba aja daftar lewat internet, palingan lebih lama” (tersenyum penuh kemenangan)

Saya: ????

Saya jadi heran, udah ngeliat antrian yang berantakan, tapi gak ada juga petugas pajak yang turun tangan ikut membantu. Lalu apa gunanya registrasi online lewat internet yang selama ini di promosikan lewat iklan-iklan di TV? Saya sudah mencoba, tapi memang tidak ada respond dari pajak.go.id nya sendiri. Mestinya pendaftaran lewat internet ini bisa mengurangi antrian… tapi kenapa sepertinya itu tidak berlaku ya?
Aneh… kenapa memberlakukan sesuatu yang mereka gak mungkin bisa meng-handle nya. Semua orang disuruh bayar pajak, bahkan untuk mendaftarkan NPWP saja susah…
Saya juga sempat bertanya-tanya… kalau misalnya penghasilan saya lebih rendah daripada para wajib pajak, apakah saya akan mendapatkan ‘income tax return’? tapi kenyataannya tidak. Aneh bin ajaib memang… lalu tahu darimana mereka kalau saya tidak berpenghasilan? Bisa saja saya mengaku hanya ibu rumah tangga biasa, tidak berpenghasilan, walaupun pada kenyataannya saya mempunyai peghasilan yang lumayan dari usaha saya, toh gak ada juga yang bisa melacak, ya kan? Ya sudahlah.. urusan pajak ini saya maafkan… ada yang bilang ke saya, kalau urusannya sama negara, kita ngalah aja…mau dianiaya juga, pokoke mereka yang bener dah….

Anywayyyy….
Saya cukup beruntung, tahun baru ini saya bisa pulang ke Bali. Karena saya mendapatkan promo tiket murah, hehehe… saat itu sih plannya pas malem tahun baru mendayagunakan teman2 yang bekerja di club supaya dapet invite gratis… hahaha… giliran invitation sudah ada, tiba2 saya MALES mode on…

Sebenarnya sih saya kurang begitu suka keluar di saat malam tahun baru, karena sudah menjadi rahasia umum kalau malam tahun baru itu pasti macet dan crowded.
Kalau naik mobil, jangan harap bisa bergerak, naik motor, boleh lah… tapi tetap saja, macet! Beberapa teman-teman menyayangkan saya yang ke Bali hanya di rumah saja saat new year’s eve, saya tidak merasa kehilangan apapun, saya pikir, lebih baik saya bersenang-senang di rumah yang hangat bersama keluarga dibanding keluar dan mengantri! Mengantri di jalan, mengantri untuk masuk ke club, mengantri untuk membeli minuman, mengantri kamar mandi, mengantri keluar saat udah mulai kehilangan kesadaran, dsb dsb…

Saya pikir setelah malam tahun baru orang-orang akan lelah dan tidak keluar di tgl 1 Januari, saya salah. Sore itu saya dan suami terjebak kemacetan di sepanjang jalan menuju Discovery Mal, Kuta. Alhasil, mobil saya parkir di pinggir jalan, saya jalan kaki sekitar 500 meter ke Discovery Mal. Hanya untuk melihat manusia mengantri.

Memang urusan antri mengantri ini sering mengesalkan. Belum lagi mengantri buku rapor. Itu juga lamaaaaa sekali, saya heran pada membicarakan apa sih orang tua murid dan guru tersebut? Kalau mau curhat jangan sambil ambil raport donk…

Intinya budaya antri ini emang rada-rada susah diimplikasikan ke budaya kita. Gak usah jauh-jauh, ngantri makanan di kawinan aja masih banyak yang sering nyerobot kayak udah nggak makan 7 tahun.

Pengalaman adik saya waktu dia masih kecil, umur 5 tahunan, ada ibu-ibu yang menyerobot dia saat cuci tangan di KFC, Dan saat itu adik saya SEDANG mencuci tangan, kurang aja sekali kan ibu-ibu itu??
Sekarang, kalau ibu-ibunya aja memberi contoh buruk, gimana nanti anak-anaknya… menurut pepatah, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”

Suami pun entah kenapa selalu tergoda untuk mengantri di RotiBoy, yang antriannya tidak jelas dimana mulainya, akhirnya kita hanya berdiri dibelakang orang yang terakhir mengantri. Setelah menunggu sekian lama, ternyat si mbak-mbak RotiBoy sialan itu berkata, “Maaf, pak ngantrinya mulai dari sana” sambil menunjuk ke antrian panjang yang tadinya tidak ada saat kami pertama datang. Kenapa nggak bilang dari tadi? Dia juga lihat kan kalau di belakang kami juga panjang antriannya. Kenapa harus mulai mengantri dari awal padahal kami sudah mengantri jauh lebih lama sebelum antrian yang mereka buat valid itu ada. Mulai dari detik itu saya menyatakan ANTI ROTIBOY.

Memaksakan budaya antri gak akan mungkin terjadi, karena emang kitanya aja ‘ndableg’ apalagi kita punya peribahasa “Lain padang lain ilalang, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, yang intinya, selama lo masih tinggal di Indonesia, ya gak usah repot-repot antri dengan baik, toh itu bukan budaya kita…
Jangan lupa, budaya kita juga budaya toleransi, jadi kalo ada yang ngawur-ngawur di sistem antrian, mbok ya di toleransi-kan…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s